Seni Dan Budaya

Bandrong Lesung

 
Bandrong lesung merupakan salah satu kesenian tradisional banten yang hampir punah keberadaanya. Sekitar 20 th yang lalu, kesenian jenis ini masih di jumpai terutama pada event tertentu, seperti acara khitanan, perkawinan atau hajatan lainnya pada tradisi masyarakat banten kala itu.Bandrong lesung salah satu kesenian tradisional unggulan kota cilegon

Rampak Bedug

















Bedug terdapat di hampir setiap masjid, sebagai alat atau media informasi datangnya waktu shalat wajib 5 waktu. Kata “Rampak” mengandung arti “Serempak”. Jadi “Rampak Bedug” adalah seni bedug dengan menggunakan waditra berupa “banyak” bedug dan ditabuh secara “serempak” sehingga menghasilkan irama khas yang enak didengar


Patingtung bambu / Pantun Bambu


 
Pantun adalah merupakan alat musik tradisonal khas rakyat cilegon yang terbuat dari bambu berdiameter rata-rata 10 cm panjang 80 cm, beruas dua dengan lubang ditengah dan berlidah disayat dengan tiga buah senar sembilu bernada empat tangga nada goong. Dalam satu grup patingtung bambu dibutuhkan paling sedikit tiga pantun yang terdiri dari pantun melody gendang tepak, pantun bas gendang bung dan pantun ritme gendang blampak. Yang apabila dimainkan secara serempak akan menimbulkan bunyi mirip atau nyaris sama dengan iringan patingtung

Cilegon Ethnic Carnival




Berbagai Etnik atau suku bangsa warga Cilegon mau tidak mau telah membawa Kota Cilegon sebagai Kota dengan Multi Etnik. Namun karena tujuan utama mereka adalah bekerja dan mencari rejeki, masyarakat prular tersebut telah hidup damai dan saling menghargai dengan budaya masing-masing. “Cilegon Etnic carnival” diskenariokan berupa pentas seni dan karnaval yang menghadirkan beragam budaya yang ada di Kota Cilegon: Aceh, Sumatra Utara, Sumatera Barat, Palembang, Jawa, sunda, Betawi, Bali, Kalimantan dan Papua.
Penyelengaraan kegiatan ini melibatkan para komunitas seni Kota Cilegon, Sanggar, Padepokan, Sekolah dan Industri.
Cilegon Etnik Karnaval akan menampilkan Ragam Busana Adat Nusantara yang disertai dengan tarian dan diiringi sekelompok masyarakat berbusana dengan mengenakan simbol dan nuansa ragam adat yang dibawakannya.

Debus
















Kesnian tersebut berawal diberi nama Al-Madad (befmain besi)/ seiring dengan perubahan serta perjalanan waktu jenis kesenian ini semakin hari semakin menunjukkan kebolehan dalam bermacam macam atraksi sebagai kelengkapan pertunjukanya masyarakat. Sebagai kesenian yang banyak menggunakan megis, tidak sembarang orang dapat memerankan pertunjukan akrobatiknya sebelum mempelajari teknik dan beberapa persaratan yang harus dijalankan sebelum manggung. Alat alat yang digunakan untuk menggelar pertunjukan kesenian debus terdiri dari 3 buah terbang gede (Rebana ukuran besar yang garis tengahya berukuran 75 cm), disebagian daerah ada yang menggunakan ketimping kecil-kecil (rudat) berjumlah sepuluh buah, 1 pasang gondang, 7 buah senjata (al-madad/gada yang tebuat dari gagang kayu ukuran besar berbentuk bulat yang ujungnya ditancapkan besi seperti ujung trisula). Ada beberapa tambahan pertunjukan sehingga banyak peralatan yang membahayakan seperti: golok, pecahan kaca, paku, gergaji palu, dll. Peralatan tersebut digunakan semata-mata untuk mempertunjukkan kekebalan tubuh.

Patingtung / kendang pencak


Patingtung termasuk jenis kesenian tradisional yang paling banyak digemari oleh masyarakat tua ataupun muda. Hampir ditiap kelurahan se-kota Cilegon, kesenian ini tumbuh dan berkembang mencari identitasnya masing-masing, pada saat ini masih aktif tercatat 34 komunitas patingtung se-kota cilegon yang tergabung dalam persatuan pendekar persilatan & seni budaya banten Indonesia”PPPSBBI”.
Jumlahkeenian tiap grup ini cukup banyak, antara 20-30 orang, tukang kendang 2 orang, tukang terompet seorang, tukang goyang 3 orang, tukang ketug seorang, tukang kecrek seorang pemain patingtung rata-rata menguasai silat beladiri. Busana yang dipakai pemain pada umumnya berwarna hitam atau gelap. Yaitu baju kampret celana pangsi dan ikat kepala. Jenis kesenian ini biasa dipentaskan siang atau pada malam hari dan juga bias dipentaskan di panggung atau di tanah lapang. Biasanya setelah gembrungan atau dikenal oleh masyarakat masa kini chek sound, untuk menginstrumenkan noda serta suara yang dikeluarkan. Apabila suara goong kurang enak didengar maka goong di kasih minum (disiram dengan air bagian dalam goong). Lamanya pementasan ini biasanya berlangsung 7 jam.
Kesenian Kota Cilegon juga meliputi rudat, ubrug, gacle/sulap banten, rampak dayak, qiroat, marawis, reog, gambus, rebana, terbang gede, rampak bedug, angklung buhun, jaran bilik/kuda lumping, bal-balan geni (Bola Api), dan pantun. Sedangkan permainan tradisionalnya yang pernah dan masih dilakukan oleh masyarakat cilegon, antara lain congklak, gobag sodor, engrang, gatrik, dampu, belkes, benteng-bentengan, lompat karet/yeye, jingklok dan hong-hongan/rok-rokan.

                

0 komentar:

Posting Komentar